Wong FeiHung Islam….???!!!

Wong Fei Hung Pendekar Muslim Dari Cina

Posted on 16/02/2010 by frismyads

Sudah banyak orang yang tahu bahwa tokoh bahari legendaris asal Cina, Sam Poo Kong alias Muhammad Cheng Ho adalah seorang Muslim. Namun nampaknya masih banyak yang belum tahu bahwa masih banyak tokoh China legendaris yang ternyata beragama Islam. Dua di antaranya ialah Wong Fei Hung dan Judge Bao.

Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Alah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amin.

Wong Fei Hung Adalah Islam………?, Sekarang Malah Punya Nama Arab Lagi FAISAL HUSSEIN WONG dan Wong Fei Hung dipercaya muslim adalah salah satu pendiri atau penyebar agama ISLAM di China malah yang lebih unik lagi katanya ternyata tehnik pengobatan Wong Fei Hung seperti akupuntur / tusuk jarum, totok saraf, sambung tulang, dst………. itu berasal dari Arab atau mungkin nyontek Al Qur’an……??????????????

????????
Advertisements

“Ni Hao Ma” Sang Ulama

Muslim

Setelah tahun 1978, Islam menunjukkan tanda kebangkitannya di China. Ratusan masjid dan ratusan imam tumbuh. Kalangan muda mulai rajin belajar Islam!

Karpet-karpet yang terhampar masih terlihat relatif baru. Tanda penunjuk arah, tempat wudu, majalah dinding yang memuat beberapa kliping berita tentang muslim China, denah ruang sholat dan sejarah masjid Niujie semua ditulis dalam dua bahasa, bahasa China dan Inggris. Kesemua itu menandakan bahwa masjid ini terbuka untuk semua bangsa. China telah membuka pintu untuk semua penduduk bumi berkunjung ke Beijing dengan olimpiadenya, termasuk tentunya adalah Muslim yang juga punya hajat khusus dengan berkah olimpiade bulan Juli lalu.

Alhamdulillah, siang itu saya dipertemukan Allah dengan Ma Yuhu, seorang mahasiswa kedokteran di salah universitas negeri di Beijing. Ia menjelaskan, bahwa musim panas lalu ia betul-betul gembira dengan momentum olimpiade karena bisa berkenalan dengan banyak saudara seiman dari berbagai penjuru dunia. Apalagi kemudian muslim Beijing bisa berkontribusi untuk kelancaran even internasional ini. Ia tidak sendiri dalam menyambut kaum muslimin, tapi banyak suka relawan muda berdatangan untuk memandu para tamu Allah yang datang ke Masjid sejak bulan Juli tahun ini. Mereka umumnya cakap berbahasa Arab atau Inggris.

Ma menjelaskan, menjelang dan saat olimpiade berlangsung, Beijing sangat padat dikunjungi pengunjung dari berbagai belahan dunia. Muslim China juga melakukan berbagai persiapan untuk menyambut olimpiade dengan menata masjid mereka. Tak terkecuali, mometum ini dijadikan komunitas muslim untuk menyambut sudara-saudara mereka yang berasal dari berbagai dunia. Ada sekitar 72 masjid di Beijing. Tetapi hanya sekitar 12 masjid besar saja yang dijadikan lokasi ibadah khusus untuk para pengunjung olimpiade dari negara lain.

Foto Masjid Niujie

Dengan ditemani Ma Yuhu, siang itu saya diperkenalkan dengan salah seorang imam masjid Niujie.

“Indonesia? Oooo …kata lelaki muda ini dalam bahasa China yang saya tak mengerti, tapi dari mimiknya jelas antusias menyambut. Beberapa imam mampu diajak bercaka-cakap dalam bahasa Arab. Kemudian kami pun bercakap-cakap, berkenalan satu sama lain dengan bantuan Ma Yuhu. Ia mengungkapkan kegembiraannya setiap mendapat kunjungan dari muslim Indonesia. Karena Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia.

Salah seorang imam muda ini menjelaskan bahwa semangat persaudaraan yang disebarkan olimpiade Beijing adalah sama dengan apa yang diinginkan Islam 16 abad lalu. “Olimpiade menyerukan perdamaian dan persaudaraan, dan itulah Islam“ ujarnya.

Jum’at siang itu akhirnya saya menikmati jumat pertama berjamaah di masjid Niujie Beijing. Azan jumat dikumandangkan dua kali. Setelah azan pertama dikumandangkan, para hadirin sholat sunnah lalu dilanjutkan dengan pembacaan quran yang mengutip surat-surat juz amma oleh beberapa imam masjid. Tiap imam membaca beberapa surat bergantian. Lalu dilanjutkan tausiah jumat dalam bahasa China. Setelah tausiah jumat selesai, khotib jumat naik ke atas mimbar dan azan kedua dikumandangkan. Imam jumat menyampaikan khutbah dalam bahasa arab yang fasih.

Sepenggal sejarah

Dari papan tersebut pengunjung akan membaca sejarah ratusan tahun masjid ini. Tercatat bahwa ulama arab yang bernama Nasurutan membangun masjid Niujie tahun 996. Dua buah cap jempol muslim yang berada di masjid adalah warisan sejarah panjang masjid ini. Keduanya adalah milik Ahmad Burdani dari Ghaznavid (sekarang Afghanistan) yang wafat tahun 1280 dan Ali Imadud-Din dari Bukhara (sekarang Uzbekistan) yang wafat tahun 1283. Keduanya berdakwah di Masjid Niujie dan wafat di Beijing.

Muslim China

Ulama China menafsirkan bahwa awal masuknya Islam ke China terjadi pada tahun 651 masehi ketika khalifah Utsman bin Affan mengirimkan utusan ke Dinasti Tang (618 – 907 M). Utusan khalifat Utsman dipimpin oleh Shahabat Sa’ad bin Abi Waqqash. Meskipun Islam pertamakali mendarat di China Selatan di kota Quanzhou dan Guangzhou, akan tetapi perkembangan Islam yang pesat justru terjadi di Beijing setelah kota ini menjadi ibu kota negara semenjak dinasti Yuan (1271 – 1368).

Ketika Jengis Khan beserta tentaranya menyerbu ke arah selatan, mereka menawan banyak prajurit Arab, Persia, dan Asia Tengah dan membawa mereka ke China. Para tawanan ini kemudian tinggal di China dan banyak yang menikah dengan suku Han dan suku Mongol. Keturunan mereka inilah kelak yang menjadi cikal bakal generasi suku minoritas Hui. Suku Hui ini mayoritas beragama Islam, dan di Beijing mereka tinggal sebagai bagian dari 250 ribu muslim yang tinggal di ibukota.

Hingga kini, 15 abad kemudian, kaum muslimin yang datang ke Beijing dapat beribadah di masjid Niujie, salah satu bangunan bersejarah pada awal berkembangnya Islam di China. Niujie, yang berarti “jalan sapi jantan“ secara tidak langsung menjadi ciri atau julukan masyarakat sekitar untuk kawasan muslim.

Tidak seperti masjid di negara-negara lain, masjid-masjid di China rata-rata dibangun dengan arsitektur khas perpaduan arsitektur tradisional China dengan nuansa kaligrafi Islami. Tampak sekilas dari luar, pengunjung tidak menyangka bahwa bangunan yang mirip kelenteng ini adalah sebuah masjid.

Di masjid Niujie ini ada meja-meja batu yang pecah yang dibiarkan seolah menjadi barang sejarah masjid. Menurut keterangan, benda-benda itu adalah salah bukti sejarah adanya gerakan anti Islam pada masa lalu. Penyebaran Islam pada masa lalu dilarang dengan alasan semua aktivitas keagamaan dianggap masuk 4 hal yang dilarang: pemikiran lama (old thougths), budaya lama (old culture), tradisi lama (old customs) dan kebiasaan lama (old habits).

Setelah tahun 1978, Islam dan juga agama-agama lainnya kembali menunjukkan tanda kebangkitannya. Tahun 1980-an masjid-masjid kembali dibangun dan dibuka untuk umum. Pelatihan para imam juga dilakukan, bukan hanya di dalam masjid, tapi juga di institut-instut Islam di seluruh China. Kondisi masa lampau membuat muslim China kehilangan rantai kepemimpinan da’i hampir tiga dekade. Alhamdulillah, hingga kini masih ada sekitar 140 imam di Beijing. Rata-rata mereka berusia muda, 20 – 40 tahunan. Hanya beberapa saja yang berusia lebih dari 70 tahun.

Masjid-masjid besar lainnya yang ada di Beijing antara lain masjid agung Dongsi, masjid Nanxiaopo, masjid Jinshifangjie dan masjid Anwai. Masjid Dongshi adalah pusat Islam di Beijing. Dari data masjid Dongshi disebutkan bahwa sebelum tahun 1958 ada sekitar 146 masjid di Beijing. Akan tetapi, ketika meningkatnya “gerakan anti-kanan” akhir tahun 1950, mayoritas masjid tersebut ditutup. Semasa revolusi budaya tahun 1966-1976, hanya masjid Dongshi saja yang terbuka untuk orang asing.

Komunitas Muslim

Setahun lalu, saya berkesempatan mengunjungi Yinchuan, ibu kota provinsi Ningxia. Daerah ini adalah salah satu daerah otonomi yang dikenal daerah dengan daerah komunitas etnik Hui yang mayoritas muslim. Saat ini, di China tinggal 10 juta etnik Hui, 2 juta diantaranya berada di provinsi Ninxia. Musim haji tahun ini, bandara Yinchuan dipercaya pemerintah China untuk pertama kalinya sebagai bandara untuk mengangkut tamu-tamu Allah dari China yang akan berangkat beribadah haji ke tanah suci.

Ningxia, yang berada di Barat Laut China, dikenal pula sebagai salah satu tempat kelahiran peradaban China. “Jalur Sutra” sebagai rantai perdagangan terkenal masa lalu di China selalu melewati daerah ini. Pemandangan kota ini dipenuhi dengan keindahan pegunungan dan sungai. Setiap pengunjuang dan pedagang yang singgah saat itu akan merasa jatuh cinta dengan pemandangan alamnya, terutama dengan pegunungan Helan yang menawan.

Ketika pesawat mendarat, pandangan mata kita akan mudah jatuh pada ucapan “Marhaban yaa Ramadhan” dalam bahasa Arab, China, dan Uyghur. Sepanjang jalan, wisatawan di daerah ini tidak akan kesulitan menemukan masjid yang bertebaran di seluruh kota. Tercatat dari pusat budaya dan informasi islam Ninxia, bahwa kota ini memiliki 700 imam yang mendapat ijin (licensed) dan sekitar 3000 masjid ada di provinsi ini. Banyak kalangan pemuda dan pemudi aktif belajar Islam dan bahasa Arab yang tumbuh subur di kota ini. Di masjid Xi Guan saja terdapat lebih dari 300 mahasiswa yang belajar Islam dan bahasa Arab.

Oleh sebab itu pula, Ninxia memiliki kekayaan budaya yang khas, perpaduan kultur China dan kultur Islam yang hidup bertetangga dengan damai. Perpaduan kultur ini terpelihara sejak zaman dinasti Han dan Tang hingga kini.

Hingga kini, tercatat berdasar statistik bahwa komunitas muslim China berjumlah lebih dari 20 juta orang, yang sebagian besar hidup di provinsi Xinjiang, Qinghai, Ganshu, Ningxia, Yunnan, Shaanxi, Inner Mongolia dan Henan. Etnik Uyghur adalah komunitas muslim terbesar kedua setelah Hui, dikenal dengan etnis “Turki di China” dan berada di daerah otonomi Xinjiang yang berbatasan dengan Kazakhstan, Mongolia, Kirghizstan, Tajikistan Afghanistan, Pakistan, Tibet dan India.

Bagi seorang Ma Yuhu, tentu tidak mudah menjalankan ibadah dengan kondisi demografis, geopolitis serta akibat berbagai rentetan sejarah yang ada. Doa kita kepada Allah agar muslim China diberikan kekuatan iman dan ketabahan adalah harapan mereka. Dan semoga Allah selalu menguatkan ikatan persaudaraan muslim China dengan muslim di dunia lainnya, termasuk Indonesia.

Xiau hui Jian (sampai jumpa lagi) brother Ma Yuhu, gumamku dalam hati dengan langkah berat bersamaan akhir kunjunganku di China.

[Dari laman Hidayatullah, kiriman, Suhendrapengurus Masjid Al Falah. Kini bekerja sebagai peneliti lembaga nasional pemerintah Jerman di Berlin]

Laksamana cHeng Ho

Biografi

Cheng Ho adalah seorang kasim Muslim yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok (berkuasa tahun 1403-1424), kaisar ketiga dari Dinasti Ming. Nama aslinya adalah Ma He, juga dikenal dengan sebutan Ma Sanbao (馬 三保), berasal dari provinsi Yunnan. Ketika pasukan Ming menaklukkan Yunnan, Cheng Ho ditangkap dan kemudian dijadikan orang kasim. Ia adalah seorang bersuku Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip dengan suku Han, namun beragama Islam.

Cheng Ho berlayar ke Malaka pada abad ke-15.

Pada tahun 1424, kaisar Yongle wafat. Penggantinya, Kaisar Hongxi (berkuasa tahun 1424-1425, memutuskan untuk mengurangi pengaruh kasim di lingkungan kerajaan. Cheng Ho melakukan satu ekspedisi lagi pada masa kekuasaan Kaisar Xuande (berkuasa 1426-1435).
[sunting] Penjelajahan

Cheng Ho melakukan ekspedisi ke berbagai daerah di Asia dan Afrika, antara lain:

* Vietnam
* Taiwan
* Malaka / bagian dari Malaysia
* Sumatra / bagian dari Indonesia
* Jawa / bagian dari Indonesia
* Sri Lanka
* India bagian Selatan
* Persia
* Teluk Persia
* Arab
* Laut Merah, ke utara hingga Mesir
* Afrika, ke selatan hingga Selat Mozambik

Karena beragama Islam, para temannya mengetahui bahwa Cheng Ho sangat ingin melakukan Haji ke Mekkah seperti yang telah dilakukan oleh almarhum ayahnya, tetapi para arkeolog dan para ahli sejarah belum mempunyai bukti kuat mengenai hal ini. Cheng Ho melakukan ekspedisi paling sedikit tujuh kali dengan menggunakan kapal armadanya.
[sunting] Pelayaran
Peta Kangnido (1402) sebelum Pelayaran Cheng Ho dan diperkirakan ia memiliki informasi geografi detail pada sebagian besar Dunia Lama.
Pelayaran     Waktu     Daerah yang dilewati[1]
Pelayaran ke-1     1405-1407     Champa, Jawa, Palembang, Malaka, Aru, Sumatra, Lambri, Ceylon, Kollam, Cochin, Calicut
Pelayaran ke-2     1407-1408     Champa, Jawa, Siam, Sumatra, Lambri, Calicut, Cochin, Ceylon
Pelayaran ke-3     1409-1411     Champa, Java, Malacca, Sumatra, Ceylon, Quilon, Cochin, Calicut, Siam, Lambri, Kaya, Coimbatore, Puttanpur
Pelayaran ke-4     1413-1415     Champa, Java, Palembang, Malacca, Sumatra, Ceylon, Cochin, Calicut, Kayal, Pahang, Kelantan, Aru, Lambri, Hormuz, Maladewa, Mogadishu, Brawa, Malindi, Aden, Muscat, Dhufar
Pelayaran ke-5     1416-1419     Champa, Pahang, Java, Malacca, Sumatra, Lambri, Ceylon, Sharwayn, Cochin, Calicut, Hormuz, Maldives, Mogadishu, Brawa, Malindi, Aden
Pelayaran ke-6     1421-1422     Hormuz, Afrika Timur, negara-negara di Jazirah Arab
Pelayaran ke-7     1430-1433     Champa, Java, Palembang, Malacca, Sumatra, Ceylon, Calicut, Hormuz… (17 politics in total)

Cheng Ho memimpin tujuh ekspedisi ke tempat yang disebut oleh orang China Samudera Barat (Samudera Indonesia). Ia membawa banyak hadiah dan lebih dari 30 utusan kerajaan ke China – termasuk Raja Alagonakkara dari Sri Lanka, yang datang ke China untuk meminta maaf kepada Kaisar.

Catatan perjalanan Cheng Ho pada dua pelayaran terakhir, yang diyakini sebagai pelayaran terjauh, sayangnya dihancurkan oleh Kaisar Dinasti ching

[sunting] Armada

Armada ini terdiri dari 27.000 anak buah kapal dan 307 (armada) kapal laut. Terdiri dari kapal besar dan kecil, dari kapal bertiang layar tiga hingga bertiang layar sembilan buah. Kapal terbesar mempunyai panjang sekitar 400 feet atau 120 meter dan lebar 160 feet atau 50 meter. Rangka layar kapal terdiri dari bambu Tiongkok. Selama berlayar mereka membawa perbekalan yang beragam termasuk binatang seperti sapi, ayam dan kambing yang kemudian dapat disembelih untuk para anak buah kapal selama di perjalanan. Selain itu, juga membawa begitu banyak bambu Tiongkok sebagai suku cadang rangka tiang kapal berikut juga tidak ketinggalan membawa kain Sutera untuk dijual.
[sunting] Kepulangan

Dalam ekspedisi ini, Cheng Ho membawa balik berbagai penghargaan dan utusan lebih dari 30 kerajaan – termasuk Raja Alagonakkara dari Sri Lanka, yang datang ke Tiongkok untuk meminta maaf kepada kaisar Tiongkok. Pada saat pulang Cheng Ho membawa banyak barang-barang berharga diantaranya kulit dan getah pohon Kemenyan, batu permata (ruby, emerald dan lain-lain) bahkan beberapa orang Afrika, India dan Arab sebagai bukti perjalanannya. Selain itu juga membawa pulang beberapa binatang asli Afrika termasuk sepasang jerapah sebagai hadiah dari salah satu Raja Afrika, tetapi sayangnya satu jerapah mati dalam perjalanan pulang.
[sunting] Rekor

Majalah Life menempatkan Cheng Ho sebagai nomor 14 orang terpenting dalam milenium terakhir. Perjalanan Cheng Ho ini menghasilkan Peta Navigasi Cheng Ho yang mampu mengubah peta navigasi dunia sampai abad ke-15. Dalam buku ini terdapat 24 peta navigasi mengenai arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai pelabuhan.
Berkas:ChengHoTreasureBoat.gif
Miniatur kapal Cheng Ho

Cheng Ho adalah penjelajah dengan armada kapal terbanyak sepanjang sejarah dunia yang pernah tercatat. Juga memiliki kapal kayu terbesar dan terbanyak sepanjang masa hingga saat ini. Selain itu beliau adalah pemimpin yang arif dan bijaksana, mengingat dengan armada yang begitu banyaknya beliau dan para anak buahnya tidak pernah menjajah negara atau wilayah dimanapun tempat para armadanya merapat.

Semasa di India termasuk ke Kalkuta, para anak buah juga membawa seni beladiri lokal yang bernama Kallary Payatt yang mana setelah dikembangkan di negeri Tiongkok menjadi seni beladiri Kungfu.
[sunting] Cheng Ho dan Indonesia
Perbandingan antara kapal jung Cheng Ho (“kapal harta”) (1405) dengan kapal “Santa Maria” Colombus (1492/93).

Cheng Ho mengunjungi kepulauan di Indonesia selama tujuh kali. Ketika ke Samudera Pasai, ia memberi lonceng raksasa “Cakra Donya” kepada Sultan Aceh, yang kini tersimpan di museum Banda Aceh.

Tahun 1415, Cheng Ho berlabuh di Muara Jati (Cirebon), dan menghadiahi beberapa cindera mata khas Tiongkok kepada Sultan Cirebon. Salah satu peninggalannya, sebuah piring yang bertuliskan ayat Kursi masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Pernah dalam perjalanannya melalui Laut Jawa, Wang Jinghong (orang kedua dalam armada Cheng Ho) sakit keras. Wang akhirnya turun di pantai Simongan, Semarang, dan menetap di sana. Salah satu bukti peninggalannya antara lain Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu) serta patung yang disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong.

Cheng Ho juga sempat berkunjung ke Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan raja Wikramawardhana.

Menurut buku SELAYANG PANDANG SEJARAH MADURA yang dibuat oleh DR Abdurrahman, DEMPO AWANG tewas dalam pertempuran dengan Pangeran JOKOTOLE / Pangeran Secodiningrat III / Pangeran Setyodiningrat III dari Kerajaan Sumenep.

Dempo Awang beserta perahunya hancur luluh ketanah tepat di atas Bancaran (artinya, bâncarlaan), Bangkalan. Sementara Piring Dampo Awang jatuh di Ujung Piring yang sekarang menjadi nama desa di Kecamatan Kota Bangkalan. Sedangkan jangkarnya jatuh di Desa/Kecamatan Socah